COMMUNITY
LANGUAGE LEARNING
A.
Background
Community Language Learning
pertama kali dikembangkan oleh Charles A. Curran yang seorang professor
psikologi, pada tahun 1961 sebagai upaya untuk mendemonstrasikan hubungan
antara siswa dan guru. Community Language Learning menggambarkan tentang
penggunaan teori Counseling-Learning dalam mengajarkan sebuah bahasa. Dalam
mengajarkan sebuah bahasa, tradisi Community Language Learning kadang-kadang
menyebutkan sebuah contoh “humanistic approach”.
Metode ini mempercayai
prinsip “whole person”. Whole person
maksudnya guru tidak hanya memperhatikan perasaan dan kepandaian setiap siswa,
tetapi juga memahami hubungan antar sesama siswa, baik dari segi reaksi fisik,
reaksi naluri mereka, serta keinginan mereka untuk belajar. Menurut Curran,
siswa merasa tidak nyaman pada situasi yang baru. Dengan memahami perasaan
ketakutan dan sensitif siswa, seorang guru dapat menghilangkan perasaan negatif
siswa menjadi energi positif untuk belajar.
B.
Approach
1. Theory
of language
Dilihat dari segi theory of language, menjadikan
pembelajaran bahasa kedua untuk dipahami, baik dari segi sistem suara
(pronounciation), assign fundamental meaning, dan membangun grammar dasar.
2. Theory
of learning
Dilihat dari segi theory of learning, whole person learning merupakan starting
point, dimana guru dan siswa merupakan suatu komunitas dan dengan demikian guru
sebagai fasilitator.
C.
Design
1. Tujuan
Menjadikan siswa mampu
menggunakan bahasa target dengan baik.
2. Silabus
CLL sering di gunakan dalam pembelajaran
oral atau kecakapan speaking, tetapi bisa juga digunakan dalam pembelajaran
writing sebagaimana telah disebutkan Tranel (1968), CLL tidak menggunakan
silabus secara konvensional. Berdasarkan Prosedur yang di rekomendasikan oleh
Curran pembelajaran berdasarkan sebuah topik, dan siswa menyampaikan apa yang
mereka ingin sampaikan kepada siswa yang lain. Tanggung jawab guru yaitu
mempersiapkan pengantar untuk bahan tersebut sesuai dengan tingkat kecakapan
siswa sehingga silabus pada CLL timbul dari interaksi antara siswa dan
guru.
3. Tipe
dan Aktifitas Pembelajaran
a. Translation
b. Group
work
c. Recording
d. Transcription
e. Analysis
f. Reflection
g. Listening
h. Free
Conversation
4. Learner
Role
CLL, siswa adalah
anggota sebuah komunitas dan belajar melalui interaksi dengan anggota lain
(siswa lain) pada komunitasnya. Siswa diharapkan untuk mendengarkan dengan penuh
perhatian terhadap apa yang disampaikan guru. Dan untuk menjadi counselor untuk
siswa-siswa yang lain.
5. Teacher
Role
Guru sebagai counselor
yaitu merespon kesulitan yang dihadapi siswa dan membantu siswa untuk memahami
masalahnya.
6. Material
Role
Materi pada metode ini
tidak sepenuhnya terpaku pada teks buku, guru bisa mengembangkan sendiri materi
tersebut.
D.
Metode
·
Mengatur beberapa kursi dengan cara
melingkar dengan sebuah meja di tengah, dan sebuah tape recorder di atas meja.
·
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
·
Guru menyuruh siswa membuat dialog dalam
bahasa inggris.
·
Percakapan siswa direkam.
·
Hasil rekaman ditulis dalam bentuk transkrip,
baik dalam bahasa inggris maupun bahasa Indonesia.
·
Mendiskusikan grammar dari transkrip
rekaman.
E.
Procedures
1. Tape-recording Student Conversation
Siswa merekam sebuah
percakapan siswa lain dalam bahasa target.
2. Transcription
Siswa
menuliskan ucapan-ucapan dari percakapan yang mereka miliki kemudian direkam
untuk praktek dan analisis bentuk lingusitik
3. Reflection on Experience
Siswa
melaporkan pengalaman mereka di depan siswa yang lain. Hal ini biasanya terdiri dari
ekspresi perasaan satu sama lain,
reaksi untuk diam, kepedulian terhadap sesuatu untuk dikatakan,
4. Reflective Listening
Siswa relax dan mendengarkan percakapan
dalam bahasa target dengan tape recorder. Dan tekhnik lain guru membacakan
transkrip sambil siswa mendengarkan.
5. Human Computer
Siswa memilih beberapa bagian transkrip
untuk dipratekkan dari penjelasan guru.
6. Small Group Tasks
Siswa
membentuk kelompok dan diminta untuk membuat kalimat baru kemudian share dengan
kelompok lain, minggu berikutnya siswa bekerja secara berpasangan dan kembali
membuat kalimat yang lain.
F.
Kelebihan
a. Menjadikan
siswa mandiri dalam mengerjakan tugas mereka dikelas.
b. Menjalin
kerjasama antara satu siswa dengan siswa yang lain dalam belajar bahasa target
c. Meningkatkan
kepercayaan diri dalam mempelajari bahasa target.
G.
Kelemahan
a. Menggunakan
banyak waktu.
b. Kesuksesan
metode ini tergantung keahlian counselor dalam menerjemahkan.
c. Proses
merekam dapat menimbulkan berbagai kesulitan pada siswa yang tidak lazim dengan
rekaman.
Reference
Larsen,
D. & Freeman. (1986). Techniques and
principles in language teaching. New York: Oxford
University Press.
Richard,
J. C., & Rodgers, T. S. (1986). Approaches
and method in language teaching. New York: Cambridge University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar