Jumat, 20 September 2013

Community Language Learning Method



COMMUNITY LANGUAGE LEARNING

A.    Background
Community Language Learning pertama kali dikembangkan oleh Charles A. Curran yang seorang professor psikologi, pada tahun 1961 sebagai upaya untuk mendemonstrasikan hubungan antara siswa dan guru. Community Language Learning menggambarkan tentang penggunaan teori Counseling-Learning dalam mengajarkan sebuah bahasa. Dalam mengajarkan sebuah bahasa, tradisi Community Language Learning kadang-kadang menyebutkan sebuah contoh “humanistic approach”.
Metode ini mempercayai prinsip “whole person”. Whole person maksudnya guru tidak hanya memperhatikan perasaan dan kepandaian setiap siswa, tetapi juga memahami hubungan antar sesama siswa, baik dari segi reaksi fisik, reaksi naluri mereka, serta keinginan mereka untuk belajar. Menurut Curran, siswa merasa tidak nyaman pada situasi yang baru. Dengan memahami perasaan ketakutan dan sensitif siswa, seorang guru dapat menghilangkan perasaan negatif siswa menjadi energi positif untuk belajar.          



B.     Approach
1.      Theory of language
Dilihat dari segi theory of language, menjadikan pembelajaran bahasa kedua untuk dipahami, baik dari segi sistem suara (pronounciation), assign fundamental meaning, dan membangun grammar dasar.
2.      Theory of learning
Dilihat dari segi theory of learning, whole person learning merupakan starting point, dimana guru dan siswa merupakan suatu komunitas dan dengan demikian guru sebagai fasilitator.
C.    Design
1.      Tujuan
Menjadikan siswa mampu menggunakan bahasa target dengan baik.
2.      Silabus
CLL sering di gunakan dalam pembelajaran oral atau kecakapan speaking, tetapi bisa juga digunakan dalam pembelajaran writing sebagaimana telah disebutkan Tranel (1968), CLL tidak menggunakan silabus secara konvensional. Berdasarkan Prosedur yang di rekomendasikan oleh Curran pembelajaran berdasarkan sebuah topik, dan siswa menyampaikan apa yang mereka ingin sampaikan kepada siswa yang lain. Tanggung jawab guru yaitu mempersiapkan pengantar untuk bahan tersebut sesuai dengan tingkat kecakapan siswa sehingga silabus pada CLL timbul dari interaksi antara siswa dan guru. 
3.      Tipe dan Aktifitas Pembelajaran
a.       Translation
b.      Group work
c.       Recording
d.      Transcription
e.       Analysis
f.       Reflection
g.      Listening
h.      Free Conversation
4.      Learner Role
CLL, siswa adalah anggota sebuah komunitas dan belajar melalui interaksi dengan anggota lain (siswa lain) pada komunitasnya. Siswa diharapkan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang disampaikan guru. Dan untuk menjadi counselor untuk siswa-siswa yang lain.
5.      Teacher Role
Guru sebagai counselor yaitu merespon kesulitan yang dihadapi siswa dan membantu siswa untuk memahami masalahnya.
6.      Material Role
Materi pada metode ini tidak sepenuhnya terpaku pada teks buku, guru bisa mengembangkan sendiri materi tersebut.
D.     Metode
·         Mengatur beberapa kursi dengan cara melingkar dengan sebuah meja di tengah, dan sebuah tape recorder di atas meja.
·         Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
·         Guru menyuruh siswa membuat dialog dalam bahasa inggris.
·         Percakapan siswa direkam.
·         Hasil rekaman ditulis dalam bentuk transkrip, baik dalam bahasa inggris maupun bahasa Indonesia.
·         Mendiskusikan grammar dari transkrip rekaman.
E.     Procedures
1.      Tape-recording Student Conversation
Siswa merekam sebuah percakapan siswa lain dalam bahasa target.
2.      Transcription
Siswa menuliskan ucapan-ucapan dari percakapan yang mereka miliki kemudian direkam untuk praktek dan analisis bentuk lingusitik
3.      Reflection on Experience
Siswa melaporkan pengalaman mereka di depan siswa yang lain. Hal ini biasanya terdiri dari ekspresi perasaansense of one another, reactions to silence, concern for something to say, etc. satu sama lain, reaksi untuk diam, kepedulian terhadap sesuatu untuk dikatakan,
4.      Reflective Listening
Siswa relax dan mendengarkan percakapan dalam bahasa target dengan tape recorder. Dan tekhnik lain guru membacakan transkrip sambil siswa mendengarkan.
5.      Human Computer
Siswa memilih beberapa bagian transkrip untuk dipratekkan dari penjelasan guru.
6.       Small Group Tasks
Siswa membentuk kelompok dan diminta untuk membuat kalimat baru kemudian share dengan kelompok lain, minggu berikutnya siswa bekerja secara berpasangan dan kembali membuat kalimat yang lain.
F.     Kelebihan
a.       Menjadikan siswa mandiri dalam mengerjakan tugas mereka dikelas.
b.      Menjalin kerjasama antara satu siswa dengan siswa yang lain dalam belajar bahasa target
c.       Meningkatkan kepercayaan diri dalam mempelajari bahasa target.
G.    Kelemahan
a.       Menggunakan banyak waktu.
b.      Kesuksesan metode ini tergantung keahlian counselor dalam menerjemahkan.
c.       Proses merekam dapat menimbulkan berbagai kesulitan pada siswa yang tidak lazim dengan rekaman.



Reference
Larsen, D. & Freeman. (1986). Techniques and principles in language teaching. New York:          Oxford University Press.
Richard, J. C., & Rodgers, T. S. (1986). Approaches and method in language teaching. New York: Cambridge University Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar